Lewati ke konten utama
Seger Snow sejak 1954
Masuk Gabung

Sensus Ciduk 4 Generasi: Malam Itu di Pacet, dan Sekarung Tutup Botol yang Tidak Pernah Dibuang

Sebuah keluarga di Pacet menyimpan tutup botol Seger Snow sampai sekarung penuh, dan tutup itu ternyata punya kegunaan kedua yang tidak pernah kami bayangkan. Ini cerita malam itu, dan apa yang kemudian ditulis 1.479 orang di kolom komentar.

Snowy 8 menit baca 4 pembaca
ciduk 4 generasi di pacet
ciduk 4 generasi di pacet

Saya Aan Suryadi, Head of Research & Development Seger Snow.

Tulisan ini bukan tentang formula, dan untuk sekali ini bukan tentang bahan baku. Ini tentang satu malam di Pacet, Kabupaten Bandung, ketika Direktur Utama kami mengetuk pintu sebuah rumah — dan menemukan sesuatu yang tidak pernah terpikir oleh kami yang bekerja di laboratorium.

"Sensus Ciduk 4 Generasi"

Direktur Utama kami punya kebiasaan yang, terus terang, membuat saya ikut senang setiap kali videonya keluar: beliau mendatangi langsung rumah orang-orang yang memakai produk kami turun-temurun. Di TikTok, akunnya @bapak.owner.seger, dan programnya beliau namai Sensus Ciduk 4 Generasi.

"Ciduk" di sini bahasa sehari-hari anak media sosial — kira-kira artinya dijemput atau didatangi. Yang dicari satu: keluarga yang memakai Seger Snow sampai empat generasi. Dari nenek, ke ibu, ke anak, ke cucu.

Setelah bertamu, beliau menempelkan stiker sensus di rumah keluarga itu. "Bukti kalau saya sudah ciduk," katanya di video.

Untuk saya di R&D, program ini bukan acara pemasaran. Ini cara paling jujur untuk tahu apakah yang kami buat benar-benar dipakai orang, atau hanya laku di angka penjualan.

Malam itu sudah larut, dan beliau tetap berangkat

Di videonya terdengar tim beliau mengingatkan: "Pak, ini udah malam, Pak."

Jawabannya: masih mau menciduk keluarga empat generasi, di Pacet. "Langsung kita gaskan aja, Pak."

Sampai di depan rumah, hal pertama yang beliau ucapkan bukan promosi:

"Punten… maaf diganggu malam-malam. Maaf saya ke sininya kemaleman, jadi mengganggu waktunya."

Tuan rumahnya malam itu keluarga Ibu Neulis. Ruang tamunya beralaskan karpet merah, dinding hijau, kalender bergambar Ka'bah di tembok. Nenek, ibu, anak, dan cucu duduk bersama dalam satu baris.

Yang mereka ceritakan

Direktur Utama kami bertanya pelan-pelan, satu per satu.

Dari mana pertama kali kenal Seger Snow? "Tahu dari warung."

Jawaban itu sederhana, tapi buat kami penting sekali. Sejak 1954 kami memang memilih jalan itu: produk perawatan kulit harus ada di toko dekat rumah, bahkan di warung, dan harus terjangkau. Tujuh puluh dua tahun kemudian, ternyata dari sanalah keluarga ini mengenal kami.

Bagaimana rasanya di wajah? "Enak ke wajah, seger. Dingin dipakainya."

Lalu kalimat yang menurut saya paling khas — dan tidak akan pernah muncul di riset pasar mana pun:

"Kalau sudah wudhu, pakai Seger Snow."

Bukan pukul sekian pagi, bukan "langkah ketiga setelah toner". Ukurannya wudhu. Itu ritme hidup yang sebenarnya, dan produk kami masuk ke dalamnya tanpa perlu diajari.

Anaknya memakai Seger Baby. Ia bercerita mulai memakainya sesudah melahirkan, dan atas rekomendasi bidan yang menanganinya. Sebelumnya ia sempat mencari-cari lewat iklan di TikTok tanpa menemukan yang cocok.

Saya perlu jujur soal satu hal di sini, karena ini bagian dari pekerjaan saya: cerita di atas adalah pengalaman satu keluarga, bukan janji hasil yang sama untuk semua orang. Kulit setiap orang berbeda. Untuk bayi, terutama bayi baru lahir, saran saya tetap sama seperti yang saya tulis di artikel bahan baku kami: bicarakan dulu dengan bidan atau dokter anak sebelum memakai apa pun secara rutin.

Dan satu hal terakhir yang disebut keluarga itu: harganya murah. Kami dengar itu terus sejak dulu, dan kami memang tidak berencana mengubahnya.

Sekarung tutup botol — dan kejutannya

Lalu bagian yang membuat video ini ramai.

Keluarga itu mengeluarkan satu kantong besar berisi tutup botol Seger Snow — tutup aluminium dari kemasan kaca kami, ratusan jumlahnya, sisa pemakaian bertahun-tahun. Ditumpahkan ke atas karpet, bunyinya seperti uang logam.

Reaksi Direktur Utama kami di video cuma satu kata: "Waduh."

Beliau bertanya, kenapa tutupnya disimpan, dipakai untuk apa.

Jawabannya:

"Dipakai buat kue."

Tutup aluminium itu dipakai sebagai alas dan cetakan kue. Di kolom komentar, pembaca lain menerangkannya lebih jelas lagi: alas kue dari stainless harganya mahal, sementara hampir semua orang di kampung itu memakai Seger Snow kemasan kaca — jadi tutupnya diakali jadi alas. Kue yang disebut orang-orang: kue mangkok, ali agrem, kue rangi, sasagon, kue kering.

Tujuh puluh dua tahun kami memikirkan isi botolnya. Yang tidak pernah kami pikirkan adalah tutupnya.

Lalu 1.479 orang ikut bicara

Video itu ditonton luas, disukai lebih dari 36 ribu orang, dan meninggalkan 1.479 komentar. Saya membacanya satu per satu — bukan ringkasannya, tapi komentarnya sendiri, termasuk balasan-balasannya. Ini yang paling sering muncul.

"Di rumah kami namanya bukan Seger Snow"

Komentar dengan suka terbanyak justru soal nama:

"Saya tahu Seger Snow dari nenek, cuma dulu nenek saya menyebutnya haslin cap gunung."

Sebutan yang muncul berkali-kali: haslin, haslin cap gunung, haslin beling, haslin cap pompa. Ada pula yang menyebut merek lain karena bentuk botolnya mirip — dan itu memang merek yang berbeda, bukan produk kami.

Kami tidak pernah keberatan dengan sebutan "haslin". Malah sebaliknya: HASLIN SEGER adalah merek yang juga terdaftar atas nama PT Seger Surya. Jadi kalau Anda masuk warung dan bilang "Bu, beli haslin", Anda tidak salah sama sekali. Asal-usul kata itu kami telusuri terpisah di Kenapa Banyak Orang Menyebut Seger Snow "Haslin Snow".

Empat generasi ternyata bukan satu-dua keluarga

Pola "nenek → ibu → saya → anak" muncul ratusan kali di kolom komentar. Banyak yang menyebut ibu atau neneknya masih memakai di usia 70, 80, bahkan 90-an tahun. Ada yang menyebut tahun mulai memakainya: 1970-an, 1980, 1985, 1990, 1994.

Beberapa menulis dengan nada yang membuat saya diam sejenak — orang tua yang sudah berpulang, dan botol Seger Snow yang masih tersisa di lemarinya.

"Sempat pindah, lalu balik lagi"

Ini pola yang berulang dan, menurut saya, paling jujur: banyak pembaca mengaku sempat berhenti karena tergoda produk baru, lalu kembali. Kami tidak akan menyinggung merek mana pun — bukan gaya kami, dan tidak perlu. Yang ingin saya garis bawahi cuma satu, dan itu sudah kami tulis panjang di artikel tentang breakout dan waktu: kulit tidak suka sering diganti-ganti isinya.

Dipakai bukan cuma di wajah

Bagian yang paling banyak memberi saya bahan berpikir. Pembaca menceritakan memakai krim kami untuk tumit dan telapak kaki yang pecah-pecah, rorombeheun, bibir kering, leher, dan perut saat hamil.

Untuk tumit dan bibir, jawaban yang diberikan Direktur Utama kami di kolom komentar sudah tepat dan itu juga jawaban saya: pakai Gliserin Seger Snow, dioleskan sebelum tidur, lalu pakai kaus kaki untuk bagian kaki. Gliserin bekerja sebagai humektan — menarik dan menahan air di lapisan terluar kulit. Penjelasan lengkapnya ada di Apa Itu Gliserin.

Ada juga cerita-cerita pemakaian pada kulit yang sedang bermasalah. Saya hargai kepercayaannya, tapi saya tidak akan menuliskannya sebagai kemampuan produk. Seger Snow adalah kosmetik, bukan obat. Yang dikerjakan pelembap adalah menjaga kelembapan lapisan terluar kulit — itu nyata, terukur, dan sudah cukup. Untuk kulit yang benar-benar luka atau tidak membaik, tolong ke tenaga kesehatan.

Yang keluarga itu minta langsung ke Direktur Utama kami

Di ujung kunjungan, beliau bertanya: produk apa lagi yang perlu kami buat?

Jawabannya cepat: lotion. Lalu: parfum — "harus wangi juga, kan."

Beliau menjawab akan membagikan parfumnya. Dan buat saya di R&D, permintaan seperti ini jauh lebih berharga daripada survei mana pun, karena datangnya dari orang yang sudah memakai produk kami puluhan tahun dan tahu persis apa yang kurang.

Permintaan yang sama juga berulang-ulang di kolom komentar: lotion, hand body, minyak rambut khusus anak, kemasan yang lebih praktis dibawa. Semuanya tercatat.

Golden ticket dan 72 tahun

Sebelum pamit, Direktur Utama kami menyerahkan satu kotak — "teruntuk keluarga setia Ibu Neulis" — berisi rangkaian produk kami dan sebuah golden ticket dalam rangka perayaan 72 tahun Seger Snow, kesempatan khusus untuk pelanggan setia.

Tujuh puluh dua tahun. Angka itu terasa besar kalau ditulis, tapi malam itu bentuknya justru sangat kecil dan sangat sederhana: sekarung tutup botol yang dikumpulkan sebuah keluarga, bukan karena disuruh, melainkan karena tutupnya memang berguna untuk membuat kue.

Soal kualitas — dan cara memeriksanya sendiri

Satu kalimat dari keluarga itu masih terngiang: mereka percaya karena bidan yang merekomendasikan, dan karena sudah dipakai keluarganya sejak lama.

Kepercayaan seperti itu bukan sesuatu yang boleh kami anggap lunas. Karena itu prinsip kami tetap sama seperti yang saya tulis sebelumnya: jangan percaya karena kami yang bilang — periksa sendiri.

Krim kemasan kaca yang tutupnya menumpuk sekarung di rumah Ibu Neulis itu adalah Seger Snow Moisturizer Cream, nomor notifikasi BPOM NA18260105324, terdaftar atas nama PT Seger Surya, Kabupaten Bandung. Nomornya bisa langsung Anda cocokkan di cekbpom.pom.go.id. Nomor produk kami yang lain saya cantumkan di artikel bahan baku.

Kalau keluarga Anda juga sudah beberapa generasi

Sensus Ciduk 4 Generasi masih berjalan. Kalau di rumah Anda Seger Snow sudah dipakai turun-temurun — apalagi kalau wadah atau tutupnya masih tersimpan — ceritanya kami tunggu. Bisa lewat komunitas di situs ini, atau lewat akun resmi kami.

Dan kalau ternyata di rumah Anda tutup botolnya juga dipakai untuk sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan, tolong ceritakan. Malam itu di Pacet membuktikan bahwa pemakai kami lebih kreatif daripada tim R&D-nya sendiri.

Sumber Video Tiktok Klik Disini ---

Bacaan lain: Tujuh Dekade Seger Snow, Tirta Hadi dan Produk Awal Seger Snow, dan Kenapa Saya Membuat Seger Baby.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu Sensus Ciduk 4 Generasi Seger Snow?

Sensus Ciduk 4 Generasi adalah program Direktur Utama Seger Snow lewat akun TikTok @bapak.owner.seger: mendatangi langsung rumah keluarga yang memakai produk Seger Snow sampai empat generasi — dari nenek, ke ibu, ke anak, ke cucu. Setelah bertamu, rumah keluarga itu ditempeli stiker sensus sebagai tanda sudah didatangi. Kata "ciduk" dipakai dalam arti sehari-hari anak media sosial, yaitu didatangi atau dijemput.

Benarkah tutup botol Seger Snow bisa dipakai untuk membuat kue?

Benar, dan itu kebiasaan pemakai, bukan ide dari kami. Keluarga yang dikunjungi di Pacet menyimpan tutup aluminium kemasan kaca Seger Snow sampai sekarung, dan memakainya sebagai alas serta cetakan kue. Di kolom komentar, pembaca lain menyebut kue mangkok, ali agrem, kue rangi, sasagon, dan kue kering. Alasannya sederhana: alas kue dari stainless lebih mahal, sementara hampir semua orang di kampung itu memakai Seger Snow kemasan kaca.

Kenapa banyak orang menyebut Seger Snow "haslin" atau "haslin cap gunung"?

Itu sebutan warung yang sudah turun-temurun, dan kami tidak keberatan sama sekali. Sebutan yang sering muncul: haslin, haslin cap gunung (merujuk logo gunung pada kemasan), haslin beling untuk kemasan kaca, dan haslin cap pompa. Merek HASLIN SEGER juga terdaftar atas nama PT Seger Surya, jadi menyebut "haslin" di warung tidak salah. Asal-usul katanya kami telusuri di artikel Kenapa Banyak Orang Menyebut Seger Snow Haslin Snow.

Seger Snow sudah berdiri berapa lama?

Seger Snow berdiri di Bandung pada 1954, jadi pada 2026 usianya 72 tahun. Perayaan 72 tahun inilah yang menjadi latar pembagian golden ticket untuk pelanggan setia dalam program Sensus Ciduk 4 Generasi.

Apa produk Seger Snow yang dipakai keluarga di video itu?

Krim kemasan kaca bertutup aluminium, yaitu Seger Snow Moisturizer Cream, nomor notifikasi BPOM NA18260105324, terdaftar atas nama PT Seger Surya, Kabupaten Bandung. Nomor itu bisa dicocokkan sendiri di cekbpom.pom.go.id. Anak dari keluarga tersebut memakai Seger Baby, yang mulai dipakai sesudah melahirkan atas rekomendasi bidannya.

Apakah Seger Snow bisa dipakai selain di wajah?

Banyak pemakai menceritakannya: untuk tumit dan telapak kaki yang pecah-pecah, rorombeheun, bibir kering, leher, dan perut saat hamil. Untuk kulit yang sangat kering seperti tumit dan bibir, Gliserin Seger Snow yang dioleskan sebelum tidur adalah pilihan yang lebih tepat, karena gliserin bekerja sebagai humektan yang menarik dan menahan air di lapisan terluar kulit. Perlu ditegaskan, Seger Snow adalah kosmetik, bukan obat — untuk kulit yang benar-benar luka atau tidak membaik, sebaiknya ke tenaga kesehatan.

Bagaimana kalau keluarga saya juga sudah memakai Seger Snow beberapa generasi?

Ceritanya kami tunggu. Bisa dikirim lewat halaman komunitas di situs ini atau lewat akun resmi Seger Snow. Kalau wadah atau tutup kemasannya masih tersimpan, itu justru bagian cerita yang paling menarik — seperti yang terjadi malam itu di Pacet.

Sumber

Angka dan pernyataan di artikel ini merujuk pada terbitan di bawah. Silakan diperiksa sendiri.

  1. Sensus Ciduk 4 Generasi — kunjungan ke keluarga pemakai Seger Snow di Pacet (video dan 1.479 komentar) Akun TikTok resmi @bapak.owner.seger, 31 Agustus 2026
  2. Cek BPOM — pangkalan data produk ternotifikasi, untuk mencocokkan nomor NA18260105324 Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia
  3. Pangkalan Data Kekayaan Intelektual — penelusuran merek terdaftar, termasuk HASLIN SEGER atas nama PT Seger Surya Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum RI

0 Komentar

Punya pengalaman atau pertanyaan? Masuk dulu untuk ikut berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.