Tirta Hadi dan Produk Awal Seger Snow
Nama pendiri Seger Snow tidak pernah tercetak di botolnya. Ia memulai dari kecil untuk menafkahi keluarganya pada 1954 — dan pilihan produk awalnya masih menentukan bentuk merek ini tujuh dekade kemudian.
Kalau Anda membalik botol kaca Seger Snow yang ada di rumah, Anda tidak akan menemukan namanya di sana.
Tidak ada "didirikan oleh", tidak ada tanda tangan, tidak ada foto pendiri di kemasan. Yang ada cuma nama produknya, komposisinya, dan tahun 1954.
Nama itu Tirta Hadi. Dialah yang memulai semuanya.
1954, Bandung
Untuk membayangkan tahun itu: Indonesia baru sembilan tahun merdeka. Barang-barang perawatan yang beredar sebagian besar datang dari luar — merek-merek Eropa yang sudah masuk sejak zaman kolonial dan tetap bertahan sesudahnya.
Di Bandung, Tirta Hadi memulai sebuah usaha keluarga. Bukan pabrik besar, bukan hasil riset laboratorium. Usaha keluarga, dalam arti yang paling harfiah.
Dan perlu disebut apa adanya: keluarganya bukan keluarga berada. Tirta Hadi memulai dari kecil, untuk menafkahi keluarganya. Bukan karena melihat peluang pasar, bukan karena punya modal yang perlu diputar. Karena perlu.
Dengan kegigihan, ketekunan, dan kejujuran, usaha itu bertahan cukup lama untuk bisa diserahkan kepada generasi berikutnya — lalu ke generasi sesudahnya lagi, dan masih dijalankan keluarga yang sama sampai hari ini.
Produk awal Seger Snow, dan apa yang diberitahukannya
Ini bagian yang menurut saya paling menarik, dan paling sering terlewat.
Seger Snow tidak dimulai dengan krim wajah saja. Produk-produk awalnya — yang sampai sekarang masih jadi favorit pembeli — antara lain:
- Seger Urang Aring
- Seger Kemiri
- Seger Snow Moisturizer Cream
- Seger Gliserin
Perhatikan dua yang pertama. Urang aring dan kemiri bukan bahan yang ditemukan di laboratorium mana pun. Keduanya sudah dipakai orang Indonesia — terutama di Jawa — jauh sebelum ada perusahaan yang menjualnya dalam botol.
Artinya usaha ini tidak dimulai dari pertanyaan "produk luar apa yang bisa kita tiru?" Ia dimulai dari pertanyaan yang berbeda: "apa yang sudah dipakai orang di rumahnya, dan bagaimana membuatnya lebih mudah didapat?"
Itu keputusan yang kelihatan sederhana, tapi menentukan bentuk merek ini sesudahnya. Sampai sekarang produk-produk itu masih diproduksi.
Label yang belum sempat diganti
Beberapa pemberitaan menyebut Seger Snow sebagai merek perawatan kulit pertama di Indonesia. Sebelum membahas sebutan itu, ada baiknya melihat satu benda dulu.
Ambil botol Seger Gliserin. Labelnya sampai hari ini masih memakai penandaan zaman dulu, dan isinya begini:

- tulisan "Seger" & Co dengan keterangan TJAP 2 ANTING
- sebuah lambang dua anting, diapit tulisan GEDEP di kiri dan 96196 di kanan
- di bawahnya, dalam bahasa Belanda: PARFUMERIE EN CHEMECALIEN HANDEL — perdagangan parfum dan bahan kimia
Tjap adalah ejaan lama dari cap. Jadi nama penanda mereknya, secara harfiah, adalah "cap dua anting" — dan lambang dua anting itu benar-benar masih tercetak di sana, di sebelah nomor pendaftaran yang sudah tidak dipakai siapa pun lagi.
Apa itu "gedep"? Menurut keterangan lisan generasi kedua keluarga — yang menerima usaha ini langsung dari Tirta Hadi — itu adalah pendaftaran merek pada zaman Belanda, dan "gedep" istilah yang dipakai waktu itu.
Saya perlu berterus terang: arsipnya tidak ada. Pendaftaran merek di Indonesia sekarang berjalan digital lewat DJKI, dan catatan lama seperti itu tidak ikut masuk ke sana. Jadi yang kami punya dua hal — labelnya, dan ingatan generasi kedua. Bukan dokumen.
Yang menarik, label itu bukan barang museum. Botol yang sama juga mencantumkan nomor notifikasi BPOM dan logo halal — penandaan zaman sekarang, berdampingan dengan tulisan Belanda yang umurnya entah berapa. Tidak ada yang merancangnya begitu. Ia cuma tidak pernah diganti.
Soal sebutan "pelopor"
Kembali ke sebutan tadi. Ada satu hal yang menurut saya perlu dipisahkan, dan jarang dipisahkan orang.
Nomor pendaftaran menunjukkan bahwa mereknya terdaftar. Ia tidak menunjukkan bahwa tidak ada merek lain yang lebih dulu. Itu dua hal yang berbeda, dan yang kedua jauh lebih sulit dibuktikan — ia menuntut penelusuran seluruh catatan usaha kosmetik di Indonesia sebelum 1954. Itu belum pernah dilakukan siapa pun, termasuk kami.
Jadi saya memilih menunjukkan labelnya dan membiarkan pembaca menilai sendiri, daripada mengucapkan kalimat yang belum bisa saya pertanggungjawabkan sepenuhnya.
Yang bisa ditelusuri, dan menurut saya lebih berarti, adalah ini: produknya dibuat sejak 1954 dan tidak pernah berhenti diproduksi. Untuk sebuah usaha keluarga yang bertahan dari generasi ke generasi, itu justru lebih sulit.
Tahun-tahun ketika belum ada yang mau
Ada bagian dari sejarah ini yang tidak enak diceritakan, dan justru karena itu jarang diceritakan.
Pada awalnya, produk ini belum diterima orang.
Tidak ada toko yang langsung mau mengambil barang. Yang bisa dilakukan cuma titip jual — meninggalkan barang di toko, pulang, lalu kembali beberapa waktu kemudian untuk melihat ada yang laku atau tidak. Kalau tidak laku, barangnya dibawa pulang lagi.
Bayangkan pekerjaan itu diulang bertahun-tahun. Dan bayangkan jadi karyawan yang mengerjakannya, melihat hasil yang masuk sedikit sekali, sambil bertanya-tanya apakah ini akan ke mana-mana.
Salah satu orang yang mengerjakannya adalah Om Barnas.
Film yang tidak dimulai dengan memuji
Film The Pioneer bisa ditonton di kanal YouTube Seger Snow.
Kami pernah membuat film pendek berjudul The Pioneer, berlatar 1960. Ceritanya diambil dari sudut pandang Om Barnas — bukan dari sudut pandang pendirinya.
Yang tidak biasa: film itu tidak dibuka dengan memuji Tirta Hadi. Ia dibuka dengan karyawan yang kecewa.
"Apalah arti sebuah perjuangan? Semua kerja kerasku ini, untuk apa? Untuk siapa?"
Ia merasa terjebak dalam rutinitas tanpa makna. Ia menyangka pemimpinnya "memilih jalan yang lebih mudah, jauh dari kesulitan yang aku hadapi". Ia memegang slip gajinya dan menyimpulkan bahwa kerja kerasnya "hanya dibalas dengan upah yang tak sebanding". Kesabarannya habis; amarahnya tumbuh.
Lalu matanya terbuka.
Yang pertama ia lihat adalah orang yang bekerja lebih keras daripada dirinya sendiri:
"Aku melihatnya mencurahkan seluruh tenaganya — jauh lebih keras daripada aku, karyawannya."
"Ternyata, yang aku pikirkan selama ini salah. Dia mendahulukan kebutuhanku, meski aku tak pernah menyadarinya."
Bagian itu bukan karangan. Ketekunan Tirta Hadi memang luar biasa — beliau bekerja lebih keras daripada orang-orang yang bekerja untuknya, dan itu terlihat oleh siapa pun yang cukup dekat.
Tapi menurut cerita yang diturunkan di keluarga, ada satu hal lagi yang membuka mata Om Barnas, dan itu di luar urusan jam kerja: orang seperti apa Tirta Hadi itu. Dermawan. Suka menolong orang.
Bedanya penting. Orang bisa kagum pada atasan yang rajin selama sebulan dua bulan. Yang membuat seseorang bertahan bertahun-tahun di usaha yang hasilnya belum jelas biasanya bukan kekaguman — melainkan keyakinan bahwa orang yang diikutinya memang layak diikuti.
Dari situ keyakinan Om Barnas tumbuh. Ia bertahan. Dan produk yang bertahun-tahun cuma bisa dititipkan itu pelan-pelan mulai diterima orang.
Filmnya ditutup begini:
"Kesuksesan ini bukan hanya milikku, bukan hanya miliknya… tapi milik kita semua."
Lalu satu kartu muncul di layar: "Bapak Tirta Hadi, Founder Seger Snow."
Perlu saya sebut apa adanya: itu film, bukan rekaman dokumenter. Tokohnya diperankan, adegannya disusun, dan tidak ada yang mengaku itu kejadian persis.
Satu pesan yang terus diulang
Kalau ada satu kalimat yang menurut keluarga paling sering disampaikan Tirta Hadi, kalimat itu bukan tentang untung, bukan tentang pertumbuhan, dan bukan tentang mengalahkan siapa pun:
Bisnis harus jujur.
Sekarang perhatikan apa yang dikatakan Om Barnas sendiri, puluhan tahun kemudian, dalam obrolan yang direkam sebelum beliau berpulang. Ditanya nilai apa yang paling ia pegang selama empat puluh delapan tahun, jawabannya pendek: bekerja dengan benar dan jujur — meski tidak ada yang mengawasi.
Dan satu lagi yang ia ingat dari pendiri pertama:
Yang nomor satu adalah kualitas isinya. Kemasan itu belakangan.
Saya tidak punya tulisan tangan Tirta Hadi, tidak punya wawancara beliau, tidak punya dokumen berisi filosofinya. Yang saya punya adalah kalimat yang sama, muncul dari dua arah: dari keluarga yang mewarisi usahanya, dan dari karyawan yang bekerja hampir setengah abad di bawahnya.
Untuk sebuah usaha keluarga yang tidak pernah menulis sejarahnya sendiri, itu bukti terbaik yang ada.
Cerita Om Barnas selengkapnya ada di Lima Pesan Om Barnas.
Dari usaha keluarga jadi perusahaan
Pada 1974, usaha itu berubah bentuk jadi perseroan terbatas — PT Seger Surya — untuk menampung lini produk yang terus bertambah. Tahun itu bukan kutipan dari mana-mana: aktanya diperiksa langsung.
Dua puluh tahun dari titip jual di toko-toko sampai punya badan hukum sendiri. Untuk usaha yang dimulai karena perlu menafkahi keluarga, itu perjalanan yang tidak singkat.
Yang diteruskan sesudahnya
Lini produknya bertambah pelan-pelan. Vanishing Cream, Lightening Cream, tabir surya, dan belakangan lini perawatan yang lebih lengkap.
Pada 2016 muncul Seger Baby — dan itu bukan keputusan pemasaran. Ia lahir dari sepucuk surat seorang orang tua pada tahun sebelumnya, yang menanyakan apa isi krim yang ia pakaikan ke anaknya dan apakah aman. Ceritanya saya tulis terpisah di Kenapa Saya Membuat Seger Baby.
Menariknya, pola itu sama persis dengan yang dilakukan Tirta Hadi pada 1954: memperhatikan apa yang sudah dilakukan orang, lalu membuat sesuatu yang lebih pas untuk itu. Enam puluh dua tahun berjarak, cara berpikirnya tidak berubah.
Yang ditinggalkan seorang pendiri
Tirta Hadi tidak meninggalkan gedung bernama dirinya, tidak meninggalkan buku, dan namanya tidak ada di satu pun kemasan yang kami jual.
Yang beliau tinggalkan: produk-produk yang masih dibuat sampai sekarang, sebuah label bertuliskan dua anting yang tidak pernah sempat diganti, tiga kata yang terus diulang — bisnis harus jujur — dan sebuah usaha yang masih dipegang keluarga yang sama setelah tujuh dekade.
Untuk seseorang yang memulai dari kecil di Bandung tahun 1954 — bukan karena melihat peluang, tapi karena perlu menafkahi keluarganya — saya kira itu bukan warisan yang kecil.
Film The Pioneer bisa ditonton di kanal YouTube Seger Snow.
Penulis : Aan Suryadi, Head of Research & Development Seger Snow
Pertanyaan yang sering diajukan
Siapa pendiri Seger Snow?
Tirta Hadi. Ia mendirikan Seger Snow di Bandung pada 1954, memulai dari usaha kecil untuk menafkahi keluarganya, dan usahanya diteruskan keturunannya dari generasi ke generasi. Nama beliau tidak tercantum di kemasan produk mana pun.
Apa saja produk awal Seger Snow?
Yang bertahan sampai sekarang dan masih jadi favorit pembeli antara lain Seger Urang Aring, Seger Kemiri, Seger Snow Moisturizer Cream, dan Seger Gliserin. Dua di antaranya minyak rambut dari bahan yang sudah lama dipakai orang Indonesia.
Apa arti tulisan GEDEP 96196 dan Tjap 2 Anting di label Seger Gliserin?
Menurut keterangan lisan generasi kedua keluarga pendiri, gedep adalah istilah untuk pendaftaran merek pada zaman Belanda. Tjap 2 Anting adalah nama penandanya — tjap ejaan lama dari cap, dan lambang dua anting itu masih tercetak di label sampai sekarang, bersama tulisan Belanda parfumerie en chemecalien handel. Arsip pendaftarannya sendiri tidak ada di sistem DJKI yang dipakai sekarang.
Apakah Seger Snow benar merek skincare pertama di Indonesia?
Sebutan itu muncul di beberapa pemberitaan, dan label lama Seger Gliserin memang menunjukkan pendaftaran merek dari era Belanda. Tetapi nomor pendaftaran menunjukkan bahwa mereknya terdaftar, bukan bahwa tidak ada merek lain yang lebih dulu. Membuktikan yang kedua menuntut penelusuran seluruh catatan usaha kosmetik sebelum 1954, dan itu belum pernah dilakukan siapa pun termasuk kami.
Kapan Seger Snow menjadi perusahaan resmi?
Pada 1974, ketika usaha keluarga itu berubah bentuk menjadi perseroan terbatas, PT Seger Surya. Tahun itu dipastikan dari akta pendirian yang diperiksa langsung.
Apa isi film The Pioneer?
Film pendek buatan Seger Snow berlatar 1960, diceritakan dari sudut pandang Om Barnas sebagai karyawan di masa produknya belum diterima pasar. Ia kecewa karena hasilnya sedikit, sampai matanya terbuka melihat siapa Tirta Hadi sebenarnya — orang yang dermawan dan suka menolong. Dari situ keyakinannya tumbuh. Perlu diingat itu film, bukan rekaman dokumenter.
Apa pesan Tirta Hadi yang paling sering diulang?
Bisnis harus jujur. Pesan itu terus disampaikannya, dan Om Barnas membawanya selama empat puluh delapan tahun bekerja — bekerja dengan benar dan jujur meski tidak ada yang mengawasi.
Sumber
Angka dan pernyataan di artikel ini merujuk pada terbitan di bawah. Silakan diperiksa sendiri.
- Kenali Brand Skincare Pertama di Indonesia Seger Snow Bisnis.com, 9 April 2024
- Terungkap Strategi Bisnis Seger Snow Hingga Mampu Bertahan 70 Tahun Warta Ekonomi, 1 Oktober 2024
- 70 Tahun Seger Snow, Bertahan dari Berbagai Gempuran Brand Kecantikan IDN Times Jabar, 30 September 2024
- Tentang PT Segersurya PT Segersurya
- The Pioneer — By Seger Snow Kanal YouTube Seger Snow
Bacaan lain yang nyambung
Kenapa Saya Membuat Seger Baby
Sejak 1954 krim Seger Snow sudah dipakai orang untuk anak dan bayi, tanpa pernah kami rancang untuk itu. Sebuah surat…
Urang Aring: Cara Pakai dan Berapa Lama Hasilnya Terlihat
Rambut tumbuh sekitar satu sentimeter sebulan, dan folikelnya beristirahat berbulan-bulan. Artinya minyak rambut apa…
48 Tahun di Seger Snow: Lima Pesan Om Barnas untuk Generasi Seger
Empat puluh delapan tahun di satu pabrik, dan lima hal yang beliau titipkan sebelum berpulang — termasuk cara memilih…
0 Komentar
Punya pengalaman atau pertanyaan? Masuk dulu untuk ikut berkomentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.