Lewati ke konten utama
Seger Snow sejak 1954
Masuk Gabung

48 Tahun di Seger Snow: Lima Pesan Om Barnas untuk Generasi Seger

Empat puluh delapan tahun di satu pabrik, dan lima hal yang beliau titipkan sebelum berpulang — termasuk cara memilih kosmetik yang tidak diajarkan iklan mana pun.

Snowy 5 menit baca 1 pembaca
pesan-om-barnas-48-tahun-di-seger-snow
pesan-om-barnas-48-tahun-di-seger-snow

Ada orang yang bekerja di satu tempat selama empat puluh delapan tahun.

Bukan empat puluh delapan bulan. Empat puluh delapan tahun — lebih lama dari usia sebagian besar orang yang membaca tulisan ini. Ia masuk ketika pendiri generasi pertama masih ada, dan bertahan sampai perusahaan berpindah tangan ke generasi berikutnya.

Namanya Om Barnas. Beliau sudah berpulang.

Sebelum itu, sempat ada satu obrolan panjang yang direkam — Om Barnas duduk bersama Aan Suryadi dari Seger Snow, bercerita tentang apa yang ia lihat selama hampir setengah abad, dan apa yang ingin ia titipkan kepada yang lebih muda.

Tulisan ini adalah upaya menyampaikan titipan itu.

1. "Kualitas dulu. Kemasan itu belakangan."

Pesan pertama datang bukan dari Om Barnas sendiri, melainkan dari pendiri generasi pertama yang ia dengar langsung: yang nomor satu adalah kualitas isinya.

Kedengarannya klise sampai Anda sadar betapa terbaliknya keadaan sekarang. Hari ini sebuah produk bisa laku keras karena botolnya cantik difoto, warnanya cocok untuk konten, dan namanya enak diucapkan. Isinya nomor sekian.

Om Barnas melihat urutan itu dari sisi sebaliknya, dari dalam pabrik: yang menentukan orang kembali membeli bukan kemasannya, tapi apakah produknya benar-benar bekerja dan tidak bermasalah di kulit.

Kemasan mengantar orang membeli sekali. Isinya yang membuat mereka membeli lagi selama puluhan tahun.

2. "Jangan beli cuma karena lagi ramai."

Ini pesan yang paling keras beliau sampaikan, dan yang paling relevan untuk pembaca hari ini.

Om Barnas prihatin melihat banyak orang membeli kosmetik semata karena diiklankan artis, karena sedang viral, atau karena datang dari luar negeri — lalu belakangan kulitnya bermasalah.

Kami ingin menyampaikan bagian ini setepat mungkin, karena mudah sekali disalahpahami.

Ini bukan soal produk impor jelek dan produk lokal bagus. Bukan juga soal Korea, Jepang, atau mana pun. Produk bagus dan produk bermasalah ada di semua negara, termasuk Indonesia.

Yang beliau persoalkan adalah caranya memilih: membeli karena ramai, bukan karena sudah diperiksa.

Cara memeriksanya cuma butuh dua menit

Untungnya, di Indonesia ada cara yang jelas dan gratis. BPOM punya kampanye namanya CEK KLIK — empat hal yang diperiksa sebelum membeli:

Yang diperiksaYang dicari
KKemasanMasih utuh, tidak penyok, tidak bocor, segelnya tidak rusak
LLabelNama produk, komposisi, dan nama produsen tercantum jelas
IIzin edarAda nomor notifikasi BPOM
KKedaluwarsaTanggalnya masih berlaku

Untuk kosmetik, nomor izin edarnya diawali NA — misalnya NA18XXXXXXXX. Nomor itu bisa Anda cocokkan sendiri di cekbpom.pom.go.id: masukkan nama produk atau nomornya, dan lihat apakah keluar hasilnya. Kalau nomor di kemasan tidak ditemukan, atau muncul dengan nama produk yang berbeda, itu tanda yang tidak boleh diabaikan.

Di situs yang sama BPOM juga menerbitkan daftar Public Warning — produk yang ditarik karena mengandung bahan berbahaya. Sekali-sekali melihat daftar itu jauh lebih berguna daripada membaca seratus ulasan endorse.

Termasuk untuk produk kami

Kalau pesan ini hanya dipakai untuk menyerang produk lain, namanya bukan nasihat — namanya jualan.

Jadi kami sampaikan sekalian: periksa juga produk Seger Snow. Nomor notifikasinya ada di kemasan, dan bisa Anda cek di situs yang sama seperti produk mana pun.

Om Barnas memang meyakini produk yang ia kerjakan aman, dan alasannya masuk akal baginya — ia melihat produk yang sama dipakai turun-temurun sampai empat generasi tanpa keluhan berarti. Tapi kami perlu jujur: produk yang lama dipakai orang bukan berarti otomatis aman. Yang membuktikan sebuah kosmetik layak edar adalah izin edarnya, bukan usianya.

Dua-duanya kebetulan berlaku untuk Seger Snow. Tapi urutan berpikirnya harus benar.

3. "Kerja yang benar, dan jujur."

Ditanya nilai apa yang paling ia pegang selama 48 tahun, jawaban Om Barnas pendek: bekerja dengan benar dan jujur. Itu yang diajarkan pendiri pertama, dan itu yang ia bawa sampai akhir.

Di pabrik kosmetik, kejujuran bukan urusan moral yang mengambang. Ia sangat konkret. Menakar bahan sesuai takaran meski tidak ada yang mengawasi. Membuang satu batch yang meleset alih-alih meloloskannya. Melaporkan kesalahan sendiri sebelum ketahuan orang lain.

Tidak ada yang memberi penghargaan untuk itu. Yang ada hanya konsekuensinya di kemudian hari — pada kulit orang yang memakainya.

4. "Perusahaan ini berdiri karena kebersamaan, bukan modal."

Ini kalimat yang paling tidak terduga keluar dari orang pabrik.

Om Barnas berpendapat perusahaan bertahan bukan terutama karena besarnya modal, melainkan karena rasa kebersamaan di antara orang-orang yang mengerjakannya. Dan beliau menyebut satu per satu: bagian produksi, bagian pengemasan, bagian pemasaran — semuanya harus saling menghargai.

Perhatikan siapa yang ia sebut lebih dulu. Bukan pemasaran. Bukan pemilik. Yang ia sebut pertama adalah orang-orang yang tangannya langsung menyentuh produk, yang namanya tidak pernah muncul di mana pun.

Dari orang yang 48 tahun berada di bagian itu, pesan tersebut punya bobot yang berbeda.

5. "Jangan cuma bangga cari kerja. Ciptakan."

Pesan terakhir ditujukan khusus kepada yang muda dan berpendidikan tinggi.

Om Barnas melihat banyak anak muda dengan gelar bagus yang seluruh cita-citanya berhenti di satu titik: diterima bekerja. Menurut beliau itu terlalu pendek. Yang lebih ia harapkan, sebagian dari mereka berani menciptakan lapangan kerja — walau kecil, walau dimulai dari sangat sederhana.

Perlu diingat siapa yang mengatakan ini: seorang karyawan, bukan pengusaha. Orang yang seumur hidup bekerja untuk orang lain, tapi berharap generasi berikutnya tidak berhenti di sana.

Yang tersisa dari 48 tahun

Om Barnas tidak meninggalkan buku, jabatan besar, atau kutipan yang enak dijadikan poster.

Yang beliau tinggalkan lebih sederhana: satu obrolan yang sempat terekam, dan lima hal yang ternyata tidak satu pun berbicara tentang cara cepat kaya atau cara viral.

Kualitas sebelum tampilan. Periksa sebelum percaya. Kerja jujur meski tidak dilihat. Hargai orang yang namanya tidak disebut. Dan kalau bisa, buka jalan untuk orang lain.

Untuk sebuah merek yang berdiri sejak 1954, nasihat seperti ini bukan hiasan. Itu sebabnya perusahaannya masih ada.

Selamat jalan, Om Barnas. Terima kasih untuk 48 tahunnya.


Obrolan lengkapnya bisa ditonton di 48 Tahun di Seger Snow, begini Pesan Om Barnas untuk #GenerasiSeger, bersama Aan Suryadi.

Punya cerita tentang Om Barnas, atau tentang orang di tempat kerja Anda yang mengajarkan hal serupa? Ceritakan di komunitas → — kami ingin menyimpannya.

Bacaan lain: Tujuh Dekade Seger Snow dan Cara Membaca Label Skincare.

Pertanyaan yang sering diajukan

Bagaimana cara memastikan kosmetik aman sebelum membeli?

BPOM menyarankan metode CEK KLIK: periksa Kemasan (masih utuh dan tersegel), Label (nama produk, komposisi, dan produsen tercantum jelas), Izin edar (ada nomor notifikasi BPOM), dan Kedaluwarsa (tanggalnya masih berlaku). Nomor izin edarnya bisa dicocokkan sendiri di cekbpom.pom.go.id.

Apa arti nomor NA pada kemasan kosmetik?

NA adalah awalan nomor notifikasi BPOM untuk kosmetik produksi Asia, termasuk produk lokal Indonesia. Contohnya NA18XXXXXXXX. Nomor ini bisa dicek di cekbpom.pom.go.id — kalau tidak ditemukan, atau muncul dengan nama produk yang berbeda dari kemasannya, sebaiknya jangan dibeli.

Apakah produk yang sudah lama beredar otomatis aman?

Tidak otomatis. Lamanya sebuah produk dipakai orang bukan bukti keamanan. Yang menunjukkan sebuah kosmetik layak edar adalah nomor izin edarnya yang terdaftar dan sesuai, bukan usianya. Ini berlaku untuk semua merek, termasuk Seger Snow.

Siapa Om Barnas?

Om Barnas adalah karyawan Seger Snow yang bekerja selama 48 tahun, sejak masa pendiri generasi pertama. Beliau telah berpulang. Pesan-pesannya terekam dalam obrolan bersama Aan Suryadi yang menjadi dasar tulisan ini.

0 Komentar

Punya pengalaman atau pertanyaan? Masuk dulu untuk ikut berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.